Maret 2026 kemarin, saya meluncurkan buku perdana saya. Sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Museum Sakit Hati. Sesungguhnya menjadi penulis memang cita-cita saya sedari dulu, tapi setelah terbitnya buku perdana tersebut saya menyadari bahwa betapa tidak bersungguh-sungguhnya saya dalam meraih cita-cita tersebut. Saya tidak banyak mempelajari cara menulis, saya tidak banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk menulis, dan lebih buruknya lagi ketika menulis, saya menulis dengan asal-asalan.
Itu kenyataan yang terjadi pada saya sendiri. Lalu bagaimana hasil buku perdana saya itu? Yah, saya bakal mengakui bahwa hasilnya jelek. Jelek banget. Amat jauh dari Kusala. Saya sedih, sedih sekali. saya juga agak frustasi dengan buku pertama tersebut. Buku itu tidak seperti yang saya harapkan. Saya mengharapkan suatu tulisan yang baik dan bermutu.
Meluncurkan suatu buku yang ditulis jelek dan asal-asalan begitu membuat saya malu untuk mempromosikannya. Sampai kini pun buku itu hanya terjual lima eksemplar saja. Angka yang menyedihkan. Semenyedihkan kualitas tulisannya. Namun lima orang pembeli buku saya itu akan selalu saya kenang sebagai teman pendukung perjalanan menulis saya yang berarti. Saya tidak akan melupakan mereka, yaitu: Asep Saepudin, Adi Imam Mahmudin, Anisa Widiasari, Jein Oktaviany dan Bung Eki.
Dan tentunya juga tak lupa saya jadikan Kang Farid sebagai orang yang berjasa di balik karir kepenulisan saya. Mengingat berkat dorongan beliau juga lah saya berani menerbitkan buku ini.
Ibrah dari buku pertama yang jelek ini adalah saya tidak akan asal-asalan lagi dalam menulis. Langkah yang sudah saya ambil diantaranya adalah membeli beberapa kelas kepenulisan dari Mas Sulak, juga membeli buku Creative Writing-nya beliau, ikut kelas-kelas editing supaya punya kehati-hatian dalam menulis, meluangkan lebih banyak waktu untuk menulis dan membaca dan tentunya juga banyak-banyak berlatih menulis.
Saya tidak ingin menulis jelek selamanya.

(Penampakan buku pertama saya)
Tinggalkan Balasan