Blog

  • Cinta

    Cerpen Karya William Maxwell

    Diterjemahkan oleh: Aji Setiaji

    Miss Vera Brown, guru kami di kelas lima, sedang menulis huruf tegak bersambung yang amat indah di papan tulis. Nama itu mungkin sudah tertulis di batu nisan.

    Suaranya begitu lembut, sebagaimana tercermin dalam mata cokelat-hitamnya yang indah. Dia mengingatkanku pada bunga pansy. Ketika dia memanggil Alvin Ahren untuk membaca dan Alvin berkata, “Aku tahu tapi tak bisa mengatakannya,” seisi kelas terkekeh. Tetapi Miss Vera Brown berkata, “Cobalah!” menyemangati Alvin. Ia menunggu, untuk meyakini bahwa Alvin tak mengetahui jawabannya. Kemudian menunjuk anak yang mengangkat tangannya untuk memberitahu jawaban.

    Jika kami datang terlambat ke sekolah, merasa malu dan terengah-engah menjelaskan bahwa ada suatu halangan di jalan, sebelum kami sempat menjelaskan, ia akan berkata, “Aku tidak yakin alasanmu membantu. Ayo masuk dan segera duduk!” Bila ia memberikan pelajaran tambahan setelah jam sekolah, itu bukan karena ia cerewet, tapi karena ia membantu kami melewati bagian tersulit.

    Seseorang meletakkan apel merah besar di mejanya untuk ditemukan ketika ia masuk kelas. Ia akan tersenyum dan menyembunyikan apel itu di bawah meja. Yang lainnya meletakkan aster ungu, yang ia masukkan ke pot kaca. Begitulah, hadiah-hadiah terus berdatangan. Dia adalah guru tercantik di sekolah. Dia tidak pernah menyuruh kami untuk diam atau berhenti melempar penghapus. Kami tidak punya keinginan lain selain terus belajar dengannya.

    Seseorang berjaga di luar ketika Miss Vera Brown berulang tahun. Ketika ia masih di luar ruangan, seisi kelas memilih untuk mempersembahkan bunga dari greenhouse untuknya. Ketika Miss Vera Brown melihat kotak bunga di mejanya, dia berseru, “Oh?”

    “Lihat lebih dekat!” teriak kami semua.

    Jemarinya yang halus tampak butuh waktu lama untuk menarik pita. Akhirnya, ia mengangkat tutup kotak dan berseru.

    “Baca kartunya!” teriak kami.

    “Semoga sukses selalu untuk Miss Vera Brown, dari kami kelas lima,” begitu isi tulisan kartu itu.

    Dia menghirup bunga itu dan berkata, “Terima kasih banyak buat kalian semua,” lalu mengalihkan perhatian kami ke pelajaran mengeja hari ini.

    Sepulang sekolah, kami mengawalnya ke pusat kota untuk menyaksikan pertunjukan siang spesial dari D.W. Griffith, Hearts of the World. Kami yang membayar semuanya.

    Kami ingin Miss Vera Brown menjadi guru kami selamanya. Menjadi guru kami di kelas enam, tujuh, delapan, dan juga di sekolah menengah nantinya. Tetapi harapan hanya tinggal harapan. Suatu hari masuk guru pengganti. Kami kira Miss Vera Brown bakal datang esok harinya, nyatanya tidak. Minggu demi minggu terlewati dan guru pengganti terus menerus duduk di kursi Miss Vera, memanggil kami untuk membaca, memberikan test, dan memberikan penilaian. Sikap kami masih sama seperti ketika diajar Miss Vera: kami tak ingin guru pengganti, kami belum bisa cocok dengannya. Pada Senin pagi, guru pengganti itu berdehem dan berkata bahwa Miss Vera sedang sakit dan belum bisa kembali dalam jangka waktu yang belum ditentukan.

    Pada akhirnya, kami naik ke kelas enam dan Miss Vera tak juga kembali. Ibunya Benny Irish mengetahui bahwa Miss Vera tinggal dengan bibi dan pamannya di sebuah peternakan sekitar satu mill lebih dari pinggir kota, dan memberitahu ibuku. Begitulah kabar itu sampai ke pendengaranku.

    Suatu sore sepulang sekolah, Benny dan aku mengendarai sepeda untuk menemuinya. Di suatu jalan pertigaan yang terbagi ke arah pekuburan dan ladang Chautauqua, di sana ada lumbung merah dengan poster sirkus besar yang memperlihatkan gambar atraksinya.

    Di musim panas, saat duduk di bangku belakang mobil terbuka ayahku, aku biasa melengokkan leherku di belokan itu. Berharap dapat melihat harimau terakhir dan atraksi terbang Tuffeze, tapi itu tidak mungkin. Posternya sudah hancur dimakan cuaca.

    Hari mulai gelap ketika kami tiba di tanah perbatasan rumah peternakan tempat Miss Vera Brown tinggal.

    “Kau yang mengetuk,” ucap Benny begitu kami tiba di beranda.

    “Tidak, kau saja,” kataku.

    “Kami murid-muridnya di sekolah,” Benny menjelaskan.

    Aku bisa melihat bahwa wanita ini sedang menimbang-nimbang untuk mengusir kami, tapi dia berkata, “Aku akan kabari jika ia bersedia bertemu kalian,” dan membiarkan kami berdiri di beranda untuk sekian waktu. Kemudian ia muncul kembali dan berkata, “Kalian boleh masuk sekarang.”

    Kami mengikutinya berjalan melewati ruang tamu bercahaya muram dengan perabot-perabot tuanya, seperti yang terpajang di gereja negara. Lantai yang dilapisi linoleum, kursi yang tak nyaman, dan foto keluarga dalam lengkungan kaca di bingkai oval besar.

    Ruangan ini lebih baik, sudah dinyalakan lampu dari minyak batu bara, tapi tampak lebih gelap dari ruang-ruang yang telah kami lewati. Yang terbaring di ranjang dua lapis itulah guru kami, namun ia nampak sangat berbeda. Lengannya seperti tongkat, dan pancaran sinar matanya yang kami kenal dulu telah raib, berganti dengan bulatan hitam besar di sekelilingnya.

    Ia mengedipkan matanya pada kami, tapi aku begitu bodoh karena tidak mengetahui bahwa ia tidak senang dengan kedatangan kami. Dia tak seperti yang kami kenal, dia sudah jadi orang asing.

    Benny berkata, “Kuharap kau sembuh.”

    Malaikat yang mengawasi anak kecil, yang mengetahui namun tak bisa mengatakan apa pun, mengerti bahwa kami tak bisa melakukan apa pun. Tak lama kemudian, kami berada di luar, di atas sepeda kami, mengayuh menjelang senja di belokan jalan menuju kota.

    Beberapa pekan kemudian, aku membaca di surat kabar Lincoln Evening Courier bahwa Miss Vera Brown, yang mengajar di kelas lima sekolah pusat, meninggal karena tuberkulosis, dalam usia dua puluh tiga tahun tujuh bulan.

    Terkadang aku ikut pergi bersama ibu saat ia menabur bunga di kuburan kakek. Ibu berjalan-jalan berkelok melewati petak-petak kuburan yang sudah ia hafal, sementara aku tidak. Aku akan membaca nama-nama yang terukir di monumen: Brower, Cadwallader, Andrew, Bates, Mitchell. Dalam kenangan tercinta.

    Area kuburan sangat luas dan banyak orang yang dikubur di sini. Akan menghabiskan banyak waktu untuk mencari kuburan jika kau belum terbiasa. Tapi aku tahu, terkadang aku mengetahui yang terselubung—bahwa perempuan tua yang mengizinkan kami masuk dan menjaga Miss Vera Brown selama akhir hidupnya pergi ke pemakaman umum dan membuang air keruh dari wadah kaleng yang telah tertutup rumput setinggi kaki dari kuburan itu, lalu menggantikannya dengan air baru dari keran dekat situ, dan menata bunga yang ia bawa. Menata bunga-bunga yang ia bawa sedemikian rupa agar enak dipandang oleh yang masih hidup, dan oleh yang terpejam: oleh yang mati.

    (Pernah dimuat di Nyimpang.com)

  • Buku Pertama dan Pertaubatan Penulis Asal-asalan

    Maret 2026 kemarin, saya meluncurkan buku perdana saya. Sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Museum Sakit Hati. Sesungguhnya menjadi penulis memang cita-cita saya sedari dulu, tapi setelah terbitnya buku perdana tersebut saya menyadari bahwa betapa tidak bersungguh-sungguhnya saya dalam meraih cita-cita tersebut. Saya tidak banyak mempelajari cara menulis, saya tidak banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk menulis, dan lebih buruknya lagi ketika menulis, saya menulis dengan asal-asalan.

    Itu kenyataan yang terjadi pada saya sendiri. Lalu bagaimana hasil buku perdana saya itu? Yah, saya bakal mengakui bahwa hasilnya jelek. Jelek banget. Amat jauh dari Kusala. Saya sedih, sedih sekali. saya juga agak frustasi dengan buku pertama tersebut. Buku itu tidak seperti yang saya harapkan. Saya mengharapkan suatu tulisan yang baik dan bermutu.

    Meluncurkan suatu buku yang ditulis jelek dan asal-asalan begitu membuat saya malu untuk mempromosikannya. Sampai kini pun buku itu hanya terjual lima eksemplar saja. Angka yang menyedihkan. Semenyedihkan kualitas tulisannya. Namun lima orang pembeli buku saya itu akan selalu saya kenang sebagai teman pendukung perjalanan menulis saya yang berarti. Saya tidak akan melupakan mereka, yaitu: Asep Saepudin, Adi Imam Mahmudin, Anisa Widiasari, Jein Oktaviany dan Bung Eki.

    Dan tentunya juga tak lupa saya jadikan Kang Farid sebagai orang yang berjasa di balik karir kepenulisan saya. Mengingat berkat dorongan beliau juga lah saya berani menerbitkan buku ini.

    Ibrah dari buku pertama yang jelek ini adalah saya tidak akan asal-asalan lagi dalam menulis. Langkah yang sudah saya ambil diantaranya adalah membeli beberapa kelas kepenulisan dari Mas Sulak, juga membeli buku Creative Writing-nya beliau, ikut kelas-kelas editing supaya punya kehati-hatian dalam menulis, meluangkan lebih banyak waktu untuk menulis dan membaca dan tentunya juga banyak-banyak berlatih menulis.

    Saya tidak ingin menulis jelek selamanya.

    (Penampakan buku pertama saya)

  • Percobaan

    Ini adalah unggahan pertama yang saya buat di blog ini. Blog ini bagi saya pribadi terkesan cukup mewah karena alamat domainnya menggunakan nama saya sendiri disusul “.com” kemudian. Terkesan begitu resmi seperti Kompas.com, atau pun dotcom-dotcom lainnya. Tentu saja untuk mendapatkan alamat domain khusus begini saya harus bayar, kalau gak salah bayarnya sekitar 149.000-an, deh. Ditambah pajak dan lain-lain jadi 170.000-an per tahun, tapi bukan dari saku saya uang itu berasal. Alamat domain ini dibayarkan oleh Kang Farid, bosku di Pustakaki Press. Mungkin karena dia, eh beliau, beliau ingin memfasilitasiku agar aku lebih semangat menulis. Sebelumnya juga aku punya, sih, blog yang tadinya kuniatkan diisi dengan agenda menulis setiap hari. Sayangnya baru delapan atau sembilan harian nulis, sayanya sudah nyerah duluan.

    Jadi setelah punya blog dengan alamat domain yang mevah (sengaja typo biar kek gen z) mau diisi dengan apa blog ini? Hm, pertanyaan itu lagi. Apa, ya? Yang pasti, sih, bukan agenda menulis setiap hari karena itu kegiatan yang berat banget. Mungkin saya bakal mengisi blog ini dengan beragam tulisan dengan berbagai pembahasan yang saya sukai. Misalnya tentang bahasa, film, buku, politik, sejarah atau yang lainnya.

    Sudah segini saja dulu isi unggahan pertamanya. Semoga saya bisa konsisten menulis di sini.

    Terima kasih Kang Farid.

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!